Reog yang berasal dari ponorogo akhir2 ini menjadi perbincangan hangat yang menjurus "panas" karena diklaim milik negara tetangga, Malaysia. Kita pasti gak terima atas hal itu karena jelas - jelas reog ponorogo adalah milik Indonesia. Tapi kamu tau gak apa itu reog ponorogo?
Secara sederhana, ada lima fragmen tarian disajikan dalam penampilan kelompok reog:
1. Tari warok (prajurit sakti).
2. Tari jathil (penggambaran prajurit berkuda)
3. Bujangganong (patih buruk rupa yang jujur).
4. Tari Klana (Raja Klana Sewandono).
5. Dadak Merak (burung mjerak yang naik di atas harimau).
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.
Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari rekan raja yang beretnis Cina dalam pemerintahan dan perilaku raja yang korup. Ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan yang mengajarkan seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan kepada anak-anak muda, dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kembali Kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggang kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.
Kepopuler Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya. Pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dengan ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ’kerasukan’ saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Mereka menganut garis keturunan parental dan hukum adat yang masih berlaku.
Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisional, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Di sini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, di mana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Moga-moga informasi ini bisa bermanfaat untuk menambah nasionalisme kita dan tetap membuat kita mupeng pada produk - produk dalam negeri. Bravo
MASIH TENTANG REOG:
REOG PONOROGO? Sebuah atraksi yang luarbiasa. Karena seorang manusia memanggul "topeng" yang beratnya saja bisa jadi lebih dari si penari. Tak cuma memanggul kada-kadang ada orang yang nagkring manis di atas kepala topeng itu. Bayangkan.
Kabarnya reog memang harus didahului dengan `kesurupan` baru bisa melakukan hal-hal yang luarbiasa itu. benarkah?
Menurut keterangan Mbah Wo Kucing (sesepuh reog Ponorogo yang diundang untuk menjadi juri dan pengamat), trance tak ada dalam tradisi reog Ponorogo. Trance hanya ada dalam pertunjukan-pertunjukan cengkokan (pethilan) antara lain jaran kepang (kuda lumping), jathilan, dan reog caplok dari Pracimantoro, Wonogiri.
"Reog itu nggak perlu ndadi. Kalau ndadi itu ya namanya bukan reog, itu jathilan. Dalam reog, yang perlu kan keindahannya," katanya.
Kalau dalam adegan reog Ponorogo ada atraksi jungkir balik dan mengangkat dadak merak yang berberat lebih dari 50 kg itu memang hasil latihan keras, bukan bantuan dari alam lain.
Berbeda dari cengkokan yang biasanya hanya bersenjatakan cambuk plus eblek atau jaran kepang dengan dandanan khas (kacamata hitam), reog Ponorogo mengusung lebih banyak personel dengan kelengkapan yang lebih banyak dan berat.
Lalu seperti apakah reog Ponorogo yang asli? Mbah Wo Kucing mengatakan, saat ini kita sulit menemukan reog asli. Hampir semua sudah melalui adaptasi dan pembaruan.
Reog juga bisa mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Klana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Seperti kisah Bandung Bandawasa dalam legenda Candi Prambanan, Babad Klana Sewandana juga bertutur tentang cinta seorang raja, Sewandana dari Kerajaan Jenggala, yang nyaris tertampik oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Bayangkan, sang putri meminta Sewandana untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin.
Untuk memenuhi permintaan itu, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Tetapi tentu saja tak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewandana turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong.
Fragmen itu digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bra-ngasan para warok, serta gagah dan gemebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta. [berbagai sumber/joko/foto: istimewa]
JUGA MASIH TENTANG REOG :
Kesenian Reog Ponorogo merupakan salah satu produk dan asset budaya bangsa. Dengan segala keunikannya telah menyebar ke seluruh pelosok nusantara dan juga telah mengharumkan nama Indonesia dalam percaturan budaya di dalam negeri maupun mancanegara. Secara kuantitas dan kualitas, keberadaan Reog Ponorogo di Jakarta dan sekitarnya menunjukkan perkembangan yang positif. Sejalan dengan hal tersebut, kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Paguyuban Reog Ponorogo se-Jabodetabek pada satu dasawarsa terakhir telah mengadakan beberapa kegiatan yang berbentuk pelatihan maupun festival yang dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan dan melestarikan kezenian Reog Ponorogo agar tetap dapat diterima masyarakat seiring lajunya perkembangan jaman.
Sebagai bentuk rasa tanggungjawab dalam mempromosikan dan mengembangkan potensi seni budaya Jawa Timur, kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Paguyuban Reog Ponorogo se-Jabodetabek kembali menyelenggarakan Festival Reog Ponorogo se-Jabodetabek tahun 2007. Festival Reog ini diharapkan dapat mengangkat dan mempromosikan Reog Ponorogo sebagai aset budaya bangsa serta meningkatkan kreativitas bagi senimannya.
Pada awalnya Reog adalah sebuah bentuk kesenian arak-arakan, dan panggungnya pun di halaman-halaman dan perempatan jalan. Seiring perkembangannya, Reog mulai digarap menjadi sebuah tontonan yang dikemas untuk kebutuhan pertunjukan. Dalam kurun waktu terakhir Reog sering dipentaskan dengan format festival. Sejak masa Bupati Markum Singadimeja, Reog menjadi slogan dan trade mark Kabupaten Ponorogo sampai sekarang.
Kesenian Reog syarat dengan filosofi kehidupan manusia. Dalam gerakan-gerakannya merupakan simbol perjalanan hidup dari lahir, hidup hingga mati (dikutip dari pernyataan Mbah Wo Kucing di tabloid Promo edisi Januari 2005). Sejarah Reog Ponorogo tidak terlepas dari sejarayh Kerajaan Kediri dan Kerajaan Bantarangin (Ponorogo).
Berbagai versi tentang asal mula kesenian Reog diantaranya menurut legenda Reog Ponorogo, konon seorang Raja bernama Prabu Klana Sewandana, penguasa Kerajaan Bantarangin berguru pada Ki Ajar Lawu di Pertapaan Gunung Lawu bersama adik seperguruan yang diangkat menjadi patihnya bernama Pujangga Anom yang mempelajari ajian welut Putih dan Topeng Sakti. Dalam rangka penyempurnaan ilmu Pecut Samandiman, Prabu Klana Sakti. Dalam rangka penyempurnaan ilmu Pecut samandiman, Prabu Klana Sewandana harus bersumpah untuk tidak bersetubuh dengan wanita, apalagi menjadikannya isteri.
Konflik batin terus terjadi dalam dirinya. Apalagi para mahaguru yang lain menghendaki ia harus mempunyai penerus dan pewaris kerajaannya. Pada saat yang sama ia jatuh cinta kepada seorang puteri dari Kerajaan Kediri bernama Dewi Sangga Langit. Rasa cinta yang dalam membuatnya berani meminag sang putri. Cinta bertepuk sebelah tangan, Dewi Sangga Langit yang tidak menaruh rasa cinta kepada Prabu Klana Sewandana, memberikan persyaratan yang sangat berat kepada sang prabu untuk dapat memperisterinya. Sebagai syarat utama, prabui klana Sewandana harus membuat terowongan bawah tanah dalam waktu semalam. (mur)
For Adian Fuadi:
Di,,, aku posting legenda reog ponorogo ini yang ceritanya terputus tadi malem. Moga kamu masih sempet main ke sini,,,, Btw cerita legenda tentang Iskandarsyah - nya semalem makasih ya ;))
Ponorogo, 16-09-08